Translate

Sabtu, 15 November 2014

PREPARAT HISTOLOGI
KELENJAR

KULIT

PANKREAS

PAROTIS

SUBMANDIBULA

USUS HALUS

THYROID

SUBLINGUALIS


PREPARAT HISTOLOGI

JARINGAN EPITEL


GINJAL

TYROID

KULIT TELAPAK TANGAN

TRAKEA

USUS HALUS

VESICA URINARIA

Kamis, 13 November 2014

Cacingan oleh Strongyloides stercoralis

Penyakit cacingan yang ditimbulkan oleh parasit cacing Strongyloides Stercoralis adalah Strongyloidiasis. Manusia merupakan hospes atau jasad tempat utama berkembangnya cacing Strongyloides Stercoralis. Bagamaiman bentuk dari caing Strongyloides Stercoralis, gejala dan tanda serta pengobatan penyakit cacing Strongyloidiasis? Dibawah ini ini adalah pemaparan tentang penyakit strongyloidiasis dan penyebabnya beserta pengobatannya. Nematoda atau cacing penyebab infeksi strongyloidiasis ini terutama terdapat di daerah tropik dan subtropik sedangkan di daerah yang beriklim dingin jarang ditemukan.
Bentuk atau morfologi dan daur hidup cacing
Hanya Strongyloides Stercoralis dewasa betina yang hidup sebagai parasit di usus bagian vilus duodenum dan yeyunum. Cacing betina berbentuk filiform, halus, tidak berwana dan panjangnya kira-kira 2 mm.
Cara berkembang biak Strongyloides Stercoralis diduga secara partenogenesis yaitu perkembanganindividu dari sebuah telur tanpa melalui fertilisasi. Telur bentuk parasitik diletakkan di mukosa usus, kemudian telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform dan masuk ke rongga usus yang selanjutnya dikeluarkan bersama kotoran manusia atau tinja. Parasit cacing Strongyloides Stercoralis mempunyai tiga macam daur hidup yaitu siklus hidup langsung, siklus hidup tak langsung dan autoinfeksi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLRzX9eXv6G5GhFhP_A-U0pD16rQoHDfKdnTITq0jWizmcoX1jvzfydCfBlqBvv-ELRDdbPVedJtmcGDQ7JYUWZe46PHZ_NWnY1d2l-akqLjGUwviFJsqjcMarzwtec7yeGFYbi7ugU6fF/s1600/strongyloidiasis+strongyloides+stercoralis.jpg
Siklus atau daur hidup langsung
Sesudah 2 sampai 3 hari berada di tanah, larva rabditiform yang berukuran kira-kira 225.x 16 mikron, akan berubah menjadi larva filariform dengan bentuk langsing dan merupakan bentuk infektif, panjang badannya kira-kira 700 mikron. Apabila larva filariform Strongyloides Stercoralis menembus kulit manusia, larva akan tumbuh dan masuk ke dalam peredaran darah pembuluh darah vena dan kemudian menuju ke jantung kanan sehingga sampai ke paru-paru. Dari paru-paru parasit Strongyloides Stercoralis mulai menjadi dewasa dan menembus alveolus, masuk ke trakea dan laring. Sesudah sampai pada bagian laring terjadi refleks batuk, akibat reflek batuk ini kemudian parasit tertelan, ksehingga masuk dan sampai di usus halus bagian atas dan menjadi cacing Strongyloides Stercoralis dewasa. Cacing Strongyloides Stercoralis betina dapat bertelur kira-kira 28 hari sesudah menginfeksi manusia.
Siklus Strongyloides Stercoralis tidak langsung
Pada siklus hidup Strongyloides Stercoralis tidak langsung, larva rabditiform yang berada di tanah berubah menjadi cacing jantan dan cacing betina bentuk bebas. Bentuk-bentuk bebas ini lebih gemuk dari bentuk parasitik. Panjang Cacing Strongyloides Stercoralis yang betina 1 x 50 - 75 mikron, yang jantan berukuran 0,75 x 40 - 50 mikron. Parasit cacing ini mempunyai ekor melengkung dengan dua buah spikulum. Sesudah pembuahan, cacing Strongyloides Stercoralis betina menghasilkan telur yang menetas menjadi larva rabditiform. Bentuk Larva rabditiform dalam waktu beberapa hari dapat menjadi larva filariform yang infektif [dapat menginfeksi manusia] dan masuk ke dalam hospes baru, atau larva rabditiform tersebut dapat juga mengulangi fase hidup bebas. Siklus tidak langsung Strongyloides Stercoralis terjadi apabila keadaan lingkungan sekitamya optimum yaitu sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan untuk kehidupan bebas parasit ini, terutama pada tempat-tempat yang bersuhu tropik dengan beriklim lembab.
Sedangkan pada siklus hidup Strongyloides Stercoralis langsung sering terjadi pada tempat-tempat atau wilayah atau negara yang lebih dingin dengan keadaan yang kurang menguntungkan untuk parasit tersebut hidup.
Daur hidup Autoinfeki
Larva bentuk rabditiform Strongyloides Stercoralis kadang-kadang menjadi larva bentuk filariform pada usus manusia atau pada daerah sekitar anus (perianal). Apabila larva bentuk filariform ini menembus mukosa usus atau kulit perianal, maka dapat terjadi suatu daur hidup perkembangan cacing bentuk di dalam hospes. Adanya daur hidup autoinfeksi strongyloides strepcoralis ini dapat menyebabkan strongyloidiasis kronis atau menahun pada penderita yang terinfeksi yang hidup di daerah nonendemik.
Patologi penyakit dan gejala klinik strongyloidiasis
Apabila larva bentuk filariform dalam jumlah yang besar menembus kulit manusia, maka akan timbul kelainan kulit yang dinamakan "creeping eruption" yang ditandai dengan adanya gejala klinik berupa rasa gatal yang hebat.
Strongyloides strepcoralis dewasa dapat menyebabkan kelainan pada mukosa usus. Infeksi ri­ngan Strongyloides kebanyakan kasus terjadi tanpa diketahui oleh penderita sebagai hospes dari strongyloides strepcoralis karena infeksi ringan strongyloidiasis tidak menimbulkan gejala dan tanda klinis penyakit. Infeksi strongyloidiasis sedang dapat menimbulkan gejala dan tanda seperti rasa sakit seperti tertusuk-tusuk pada daerah epigastrium tengah dan tidak menjalar. Mungkin juga akan disertai rasa mual dan muntah; diare dan konstipasi saling bergantian. Pada strongyloidiasis dapat terjadi kemungkinan terjadinya autoinfeksi dan hiperinfeksi. Pada kejadian hiperinfeksi cacing strongyloides dewasa yang hidup sebagai parasit dapat ditemukan di seluruh saluran penceranaan atau traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan di berbagai alat atau organ dalam seperti pada paru-paru, hati, kandung empedu, dll). Hasil pemeriksaan laboratorium pada darah penderita mungkin ditemukan eosinofilia [kekurangan sel eosinofil darah putih] atau hipereosinofilia [kelebihan sel eosinofil] meskipun pada banyak kasus jumlah sel eosinofil normal.
Penegakan diagnosis Strongyloidiasis
Untuk menegakkan diagnosis bahwa seseorang terinfeksi Strongyloidiasis oleh karena strongyloides stercoralis tidak hanya dari gejala dan tanda klinik yang dirtasakan penderita. Karena Strongyloidiasis tidak memberikan gejala dan tanda klinik yang nyata. Diagnosis pasti Strongyloidiasis adalah apabila ditemukan larva rabditiform dalam tinja segar, dalam biakan atau dalam aspirasi duodenum. Dengan biakan tinja atau feses selama sekurang-kurangnya 2 x 24 jam akan dapat menghasilkan larva filariform dan cacing dewasa strongyloides stercoralis yang hidup bebas.
Pengobatan infeksi Strongyloidiasis
Hingga saat ini para dokter memberikan obat cacing tiabendazol sebagai pilihan pengobatan cacingan strongyloidiasis. Perlu juga dilakukan pengobatan untuk ngobati orang yang mengandung parasit strongyloides, meskipun kadang-kadang tidak atau tanpa gejala dan tanda apapun. Hal ini penting untuk mencegah dan menghindari terjadinya autoinfeksi. Selain itu perlu juga untuk menjaga kebersihan anus dan mencegah terjadinya konstipasi.
Prognosis Penyakit Strongyloidiasis
Pada kasus infeksi berat strongyloidiasis dapat menyebabkan kematian.


Penyebaran dan pencegahan penyakit cacing Strongyloides
Daerah-daerah yang panas, dengan kelembaban tinggi dan kebersihan atau sanitasi yang kurang, adalah merupakan tempat-tempat yang sangat mendukung dan menguntungkan bagi cacing Strongvloides sehingga dapat terjadi daur hidup yang tidak langsung.Tanah yang mendukung dan baik untuk pertumbuhan larva Strongyloides adalah tanah yang gembur, berpasir dan humus.
Upaya Pencegahan terhadap infeksi cacing strongyloidiasis sangat tergantung pada sanitasi pembuangan tinja dan usaha untuk melindungi kulit dari tanah yang terkontaminasi cacing ini, misalnya de­ngan memakai alas kaki atau sepatu. Usaha pendidikan dan penerangan kepada masyarakat mengenai carapenularan dan cara pembuatan serta pemakaian jamban juga penting untuk pencegahan penyakit strongyloidiasis


MODUL 4
BOTANI TUMBUHAN RENDAH
“PHAEOPHYTA”





Dosen :
Dra. Roimil Latifa, MSi, MM.

Oleh :
MOH. FARID MUARROF (III B)
(201310070311084)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014


Indikator Pembelajaran
1.    Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri Phaeophyta secara umum.
2.    Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri struktur sel Phaeophyta secara umum.
3.    Mahasiswa dapat menjelaskan cara perkembangbiakan Phaeophyta secara umum.


Tujuan Pembelajaran
  1. Mahasiswa mampu mengenal ciri-ciri Phaeophyta secara umum.
  2. Mahasiswa mampu mendiskripsikan struktur sel Phaeophyta.
  3. Mahasiswa mampu memahami cara perkembangbiakan Phaeophyta.


Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok


















PHAEOPHYTA

Phaeophyta adalah ganggang atau alga yang berwarna pirang atau cokelat. Alga ini biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu: 1) adanya pigmen cokelat yang menyebabkan alga tersebut kelihatan berwarna pirang dan dalam kromatoforanya terkandung klorofil-a, karotin, santofil, dan fikosantin yang menutupi warna hijau pigmen fotosintesisnya. 2) hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminarin (diberi nama menurut marga laminaria), sejenis karbohidrat yang menyerupai dekstrin dan lebih dekat dengan selulosa daripada dengan tepung. Selain laminarin juga ditemukan manit, minyak, dan zat-zat lainya. 3) adanya sebuah flagel bentuk pecut dan sebuah flagel bentuk pecut berjumbai pada gamet jantan berflagel dua, flagel-flafel tersebut muncul dari sisi selnya yang  merupakan satu-satunya bagian yang dapat bergerak pada siklus hidupnya.

A.   Habitat
Sebagian besar Phaeophyta hidup dalam habitat air laut, hanya sebagian kecil saja yang hidup di habitat air tawar. Anggota-anggotanya berkisar mulai dari yang berfilamen dengan cabang sederhana sampai pada gulma laut yang kompleks. Di habitat laut dan samudera pada daerah yang beriklim sedang serta dingin, bentuk talusnya dapat mencapai ukurang yang sangat besar dan sangat berbeda-beda bentuknya. Phaeophyta termasuk dalam kelompok yang hidupnya bersifat bentos, yaitu melekat pada batu-batuan dan kayu. Sering juga hidup sebagai epifit pada talus lain ganggang, bahkan ada yang hidup sebagai endofit.

B.   Susunan tubuh
Contoh dari Phaeophyta adalah sargassum, uraian tentang alga ini akan dijelaskan untuk menggambarkan susunan tubuh klas Phaeophyta. Sargassum adalah suatu marga gulma laut cokelat yang hidup di pesisir berkaranh di seluruh dunia, terutama dizona tropic. Alga ini memiliki tipe paremkim talus seperti yang diperlihatkan oleh gulam laut cokelat, yang merupakan contoh organisasi structural paling kompleks yang dicapai oleh alga. Tubuh vegetative Sargassum yang merupakan generasi diploid mempunyai banyak ciri yang sama dengan tumbuhan darat, dalam hal adanya batang dan struktur ang mirip dengan daun yang sebenarnya merupakan percabangan memipih yang keluar dari batang. Sargassum terikat dengan permukaan karang karena organ khusus yang digunakan untuk menempel. Secara morfologi organ tersebut merupakan pangkal batang yang melebar. Bagian lain talus juga menunjukkan pembagian peran yang tegas antar bagianya. Beberapa percabangan terletak di ketiak daun membentuk suatu susunan khusus yang dapat disebut  gelembung udara yan berguna untuk mengapungkan diri ketika terendam air pasang.

C.   Susunan sel
Pada penampang melintang terlihat pada talusnya terdapat dua jaringan yang memiliki perbedaan. Perbedan tersebut adalah medulla tengah yang tersusun atas sel-sel yang memanjang dengan tidak memiliki warna, dan korteks pinggir berupa sel-sel yang kurang lebih sama diameternya dengan sel yang berada lebih keluar berisi kloroplas.

D.   Pergerakan
Pada klas phaeophyta tingkat perkembangan yang dapat bergerak berupa zoospore dan gamet yang mempunya dua bulu cambuk yang heterogen dan redapat pada samping tubuhnya yang membentuk buah per atau sekoci. Pada waktu bergerak bulu cambuk yang panjang yang mempunyai rambut-rambut mengkilap menghadap ke muka dan yang pendek menghadap ke belakang. Dekat dengan tempay keluarnya bulu cambuk terdapat bintik mata berwarna cokelat kemerah-merahan. Daklam bagian zoospore yang lebar itu terdapat satu (jarang sekali lebih) kromatofoe berwarna cokelat.

E.    Perkembangbiakan
Cabang-cabang yang ada pada tubuhnya adalah bersifat fertile dan berisi organ perkebang biakan seksual yang pada tampak luarnya terlihat seperti noktah-noktah kecil. Pada kebanyakan jenis alat kelamin jantan dan betina muncul pada cabang yang sama dan keduanya melepaskan gametnya ke laut dan di situlah terjadi pembuahan atau fertilisasi eksternal. Gamet betinanya besar dan tidak dapat bergerak, sedangkan gamet jantannya berukuran kecil tetapi dapat bergerak. Zigotnya berkecambanh langsung menjadi tumbuhan laut yang baru. Pada beberapa jenis phaerophyta, pada daur hidupnya  terdapat fase haploidnya hanya diwakili oleh gamet yang merupakan contoh daur hidup diploid.

F.    Klasifikasi
 Pada klas phaeophya di bedakan atas beberapa bangsa, bangsa- laminales bangsa tersebut adalah 1) bangsa Paeosporales, bangsa ini merupakan bagian besar dari ganggang cokelat yang sebagian besar memiliki perawakan seperti Cladophora, akan tetapi ada pula uang mempunyai talus yang lebih tinggi tingkatanya. Pada bangsa ini perkembangbiakanya dilakukan dengan dua cara yaitu aseksual dengan membentuk zoospore dan seksual dengan membentuk isogami gametagium bersel banyak. 2) bangsa laminales, kelompok ini yang paling sederhana tingkat perkembaganganya mempunyai habitat yang memperilhatkan adanya hubungan kekerabatan dengan Phaeosporales.  Kelompok ini kebih tinggi organisasinya mempunyai sporofitdengan diferensiasui morfologi dan anatomi yang lebih tinggi serta memiliki ukuran yang besar. Pada laminaria ini berkembang biak dengan pergiliran keturunan yang beraturan. Sporofit yang besar dan bersifat diploid berganti dengan gametofit jantan dan betina yang telah memperlihatkan tanda-tanda kelamin sekunder yang jelas. 3) bangsa dictytales, pada ganggang ini spora tidak mempunyai bulu cambuk. Sporangium beruang satu dan mengeluarkan empat tetraspora. Perkembangbiakan dilakukan dengan cara seksual secara oogami. Anteridium yang berkotak-kotak dan oogonium terdapat pada tumbuhan berlainan dan tersusunsecar berkelompok.  Setiap oogonium merupakan satu sel telur. Gamet jantan mempunyai satu bulu cambuk yang terletak pada sisi tubuhnya. Mungkin sebenarnya juga ada dua bulu cambuk tetapi yang kedua memiliki ukuran yang pendek sehingga sampai sekarang diabaikan. Sporofit dan gametofit terjadi dengan bergiliran dan betaturan dan keduannya mempunyai talus berbentuk pita yang bercabang-cabang seperti garpu. 4) bangsa fucales, ganggang ini merupakan penyusun utama vegetasi lautan di daerah dingin. Pada bangsa ini perkembangbiakanya dilakukan dengan cara oogami, sedangkan peerkembangbiakan secara vegetative tidak ditemukan.

Daftar pustaka

Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT. Gramedia.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1994. Taksonomi tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.



MODUL 3
BOTANI TUMBUHAN RENDAH
“PYRROPHYTA”





Dosen :
Dra. Roimil Latifa, MSi, MM.

Oleh :
MOH. FARID MUARROF (III B)
(201310070311084)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014


Indikator Pembelajaran
1.    Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri Pyrrophyta secara umum.
2.    Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri struktur sel Pyrrophyta secara umum.
3.    Mahasiswa dapat menjelaskan cara perkembangbiakan Pyrrophyta secara umum.


Tujuan Pembelajaran
  1. Mahasiswa mampu mengenal ciri-ciri Pyrrophyta secara umum.
  2. Mahasiswa mampu mendiskripsikan struktur sel Pyrrophyta.
  3. Mahasiswa mampu memahami cara perkembangbiakan Pyrrophyta.


Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok


















PYRROPHYTA

Pyrrophyta atau biasa disebut dengan ganggang api merupakan alga uniselular atau bersel satu. Pyrrophyta pada umumnya ditemukan relative merata dengan kelimpahan yang relative bervariasi. Klas ini mengandung pigmen yang dapat berfotosintesis seperti klorofil A, C2 dan piridinin, sedangkan klas alga yang lain memiliki klorofil A, C1, C2 dan fucosantin. Alga yang masuk dalam klas Pyrrophyta dapat disebut juga  dengan Dinoflagellata yang satu-satunya memiliki kemampuan untuk berfotosintesis.

A.   Habitat
Sebagian besar dari klas Pyrrophyta hidup di habitat air laut, akan tetapi terdapat juga beberapa spesies yang lain hidup di habitat air tawar seperti  pada sungai-sungai. Pyrrophyta merupakan kelompok penyusun plankton yang memiliki peran yang teramat penting, khususnya ketika dalam kondisi hangat. Pada beberapa spesies ini hidup bersifat benthic atau dapat juga terjadi peristiwa simbiotik. Dinoflagellata memiliki variasi nutrisi yang besar, dari range nututropik ke bentuk heterotropik, yang mana terdapat juga invertebrata parasit dan ikan atau alga phagocytiza yang lain. Dinoflagellata yang memiliki sistem fotosintesis dan membutuhkan vitamin disebut autotropi dan yang membutuhkan energi disebut heterotrop. Pada klas Pyrrophyta memiliki cadangan makanan berupa tepung dan minyak.

B.   Susunan tubuh
Phrrophyta merupakan kelompok uniseluler (sel tunggal), seperti pada bangsa Peridinium dan Ceratium. Selain itu Phrrophyta juga memiliki bentuk filamen yang bercabang. Seperti pada Dinotrix dan DinoclamnOrganisme ini memiliki peranan penting pada kehidupan plankton baik itu di habitat air tawar maupun di air laut. Meskipun klas ini memiliki variasi bentuk yang lebih ditemukan di air laut. Klas dinophyceae motil tersusun oleh epikon dan hipokon yang terbagi secara melintang oleh girdre (sabuk/ sigulum), epikon dan hipokon pada umumnya dibagi menjadi beberapa lempengan atau teka dan jumlah serta susunan karakterisrik pada tingkat marga sulcus letaknya adalah membujur. 

C.   Susunan sel
dinding sel pada pyrrophyta pada umumnya mengandung selulosa dan bersifat homogeny atau tersusun atas lempengan-lempengan. Lempengan-lempengan tersebut memiliki bentuk dan susunan yang bervariasi dimana lempengan tersebut dibagi menjadfi dua bagian yaitu bagian atas atau disebut dengan epikon dan bagian bawah atau disebut dengan hipokon. Diantara kedua bagian tersebut terdapat terdapat sabuk yang letaknya melintang yang dapat disebut dengan sigulum, sedangkan yang letaknya membujur dapat disebut dengan sulkus.

D.   Pergerakan
Pada klas Pyrrophyta pergerakan tubuhnya dilakuakan dengan alat gerak berupa flagel. Flagel tersebut berjumlah dua dimana letaknya sendiri adalah satu flagel melintang dan flagel lainya kea rah posterior.

E.    Perkembangbiakan
Cara perkembangbiakan dari klas Pyrrophyta dapat dibedakan atas tiga cara yaitu:
1.    Vegetative, cara ini dilakukan dengan fragmentasi dengan membentuk filament dan pembelahan sel yang dilakukan dengan dua cara yaitu mendapat sebagian dinding sel dari sel induk serta membentuk dinding sel baru.
2.    Sporik, cara ini dilakukan dengan membentuk zoospore dan aplanospora.
3.    Reproduksi gametik, sama seperti cara lainya, cara ini juga dilakukan dengan dua cara yaitu dengan isogami zoogamy dan anisogami zoogamy.

F.    Klasifikasi
 Pada klas Pyrrophyta di bedakan atas beberapa bangsa, yaitu bangsa Desmophyceae dan Dinophyceae.


G.   Peranan
Beberapa dari bangsa Dinophyceae dapat menyebabkan keracunan dan kematian pada ikan. Keadaan tersebut disebabkan suatu fenomena alam yang disebut “red tide”. Red tide adalah keadaan air yang banyak mengandung sejumlah Dinophyceae atau organism lain yang menyebabkan warna air menjafi merah. Jenis penyebab fenomena tersebut adalah pyrodinium bahamensa var. compressum yang cukup berbahaya karena dapat mengakibatkan keracunan PSP (Paralityc Shelfish Poisoning) pada manusia setelah mengonsumsi biota laut yang ada pada air tersebut.























Daftar pustaka

SriHandayani dan Imran SL Tobing. 2008. Keanekaragaman Fitoplankton Diperairan Pantai Sekitar Merak Banten dan Pantai Penet Lampung. Jurnal Vis Vitalis. 01(01) 2008: 29-33.
Sulisetijono, 2009. Alga. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.





MODUL 2
BOTANI TUMBUHAN RENDAH
“CHLOROPHYTA”





Dosen :
Dra. Roimil Latifa, MSi, MM.

Oleh :
MOH. FARID MUARROF (III B)
(201310070311084)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

Indikator Pembelajaran
1.    Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri Chlorophyta secara umum.
2.    Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri Chlorophyceae dan Charophyceae secara umum.
3.    Mahasiswa dapat menjelaskan cara perkembangbiakan Chlorophyceae dan Charophyceae secara umum.


Tujuan Pembelajaran
  1. Mahasiswa mampu mengenal ciri-ciri Chlorophyta secara umum.
  2. Mahasiswa mampu mendiskripsikan struktur sel Chlorophyceae dan Charophyceae.
  3. Mahasiswa mampu memahami cara perkembangbiakan Chlorophyceae dan Charophyceae.


Metode Pembelajaran
Diskusi kelompok

















CHLOROPHYTA

Chlorophyta merupakan salah satu divisi dari divisi alga. Chlorophyta merupakan divisi yang telah terpilih untuk di teliti secara teliti karena pigmen fotosintesisnya, cadangan makananya yaitu kanji, susunan dinding selnya dan ultrastrukturnya yang serupa dengan yang dimiliki oleh tumbuhan tinggi. Oleh karena itu, di dalam Chlorophyta dapat dicari arah evolusi yang menjurus ke peningkatan spesialisasi bentuk tubuh dan cara perkembangbiakan alga dan usaha tersebut bermanfaat. Menurut Smith (1950) Chlorophyta di bedakan dalam dua kelas yaitu chlorophyceae dan charophyceae. Penyebaran Chlorophyceae lebih luas dari pada charophyceae sehingga jumlahnya pun lebih banyak chlorophyceae.

Chlorophyceae
A.    Habitat
Chlorophyceae kebanyakan hidup di air tawar dan sebagian lainya hidup di habitat air laut dan di air payau. Chlorophyceae yang hidup di habitat air laut akan banyak ditemukan di perairan yang dangkal dan akan melekat pada batu-batuan dan muncul ketika air sedang surut. Pada habitat air tawar, Chlorophyceae akan bersifat kosmopolit yaitu hidup di tempat yang memiliki cahaya yang cukup. Selain itu, Chlorophyceae juga akan dapat ditemukan di lingkungan akuatik yaitu lingkungan yang di dalamnya terdapat batu-batuan, tanah yang lembab dan terkadang di temukan di kulit batang pohon yang lembab. Chlorophyceae pada jenis-jenis tertentu ada yang hidup pada tanah-tanah yang basah, bahkan diantaranya dapat bertahan pada kondisi kekeringan.
B.    Susunan tubuh
Pada kelas Chlorophyceae memiliki susunan tubuh bervariasi sehingga pada kelas ini dikelompokkan menjadi delapan kelompok yaitu:
1.    Sel tunggal dan motil, seperti : Chlamydomonas.
2.    Sel tunggal dan non motil, seperti : Chorella.
3.    Sel senobium, seperti : volvox dan pandorina.
4.    Koloni tak beraturan, seperti : tetraspora.
5.    Filament, pada kelompok ini dibedakan menjadi dua yaitu filament tak bercabang seperti ulatrix dan oedogonium, serta filament bercabang seperti cladophora dan pithophora.
6.    Heterotrikus, seperti : stigeoclonium.
7.    Foliaceus, seperti : ulva.
8.    Tubular, seperti : caulerpa.
C.    Susunan sel
1.    Dinding sel, terdiri atas dua lapis yaitu lapisan dalam dan lapisan luar. Lapisan dalam tersusun atas selulosa sedangkan lapisan luar tersusun atas pectin.
2.    Kloroplas, merupakan susunan sel yang memiliki banyak variasi bentuk. Betuk tersebut adalah bentuk mangkuk seperti chlamidomonas, bentuk sabuk seperti ulothrix, bentuk cakram seperti chara, bentuk anyaman seperti oedogonium, bentuk spiral seperti spirogyra, dan bentuk bintang seperti pada zygnema.
3.    Chlorophyceae terdiri atas sel-sel kecil yang merupakan koloni berbentuk benang yang bercabang-cabang dan juga tidak, ada pula yang membentuk koloni yang menyerupai kormus seperti tumbuhan tingkat tinggi.
D.   Pergerakan
1.     Pergerakan flagel, flagel ini memiliki tipe whiplash (aktonematik) dan memiliki ukuran yang sama panjang (isokon) kecuali pada bangasa oedogoniales yang memiliki tipe stefanokon. Flagel tersebut ditutupi oleh selubung yang disebut selubung plasma dan kebanyakan sel yang memiliki flagel dilengkapi dengan stigma atau bintik mata.
2.    Pergerakan sekresi lendir, ketika sekresi lendir bergerak ke depan, bagian kutub berayun dari satu sisi ke sisi yang lainya sehingga lendir bagian belakang akan nampak seperti berkelok-kelok.
E.    Perkembangbiakan
Chlorophyceae merupakan makhluk yang berkembangbiak dengan tiga cara yaitu: 1) Seksual, perkembagbiakan ini memiliki 3 cara yaitu isogamy, anisogami dan oogami. 2) Aseksual, perkembangbiakan yang terjadi secara sporik dengan cara membentuk spora (zoospora). 3) vegetative, perkembangbiakan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan fragmentasi tubuh dan pembelahan sel.
F.    Klasifikasi
Berdasarkan sumber yang didapat, yaitu menurut Smith (1955) mengatakan bahwa Chlorophyceae dapat dikelompokan menjadi 10 bangsa yaitu:


1.    Volvocales
2.    Tetraspora
3.    Ulotrochales
4.    Oedogonales
5.    Ulvales
6.    Schizogonales
7.    Chiorococales
8.    Siphonales
9.    Siphonocladades
10. Zygnematales



Charophyceae
A.    Habitat
Charophyceae kebanyakan hidup di habitat air tawar yang jernih dengan cara melekat di dasar perairan. Kelompok ini hidup di lingkungan yang bersih yang bebas dari polutan dan pada umumnya berada di perairan yang dangkal. Oleh karena itulah untuk mengetahui perairan yang bersih dengan konsentrsi bahan organik rendah maka peneliti mengidentifikasikanya dengan ada atau tidaknya Charophyceae di lingkungan tersebut.
B.    Susunan tubuh
Talus multiseluler terdiri dari sumbu yang tersusun tegak, panjang, pipih dan melekat pada substrat dengan rizoid yang multiseluler. Talus pada umumnya diselubungi oleh zat kapur. Talus terbagi menjadi ruas dan buku. Setiap buku pada talus memiliki cabang lateral yang mengelilinginya dan tampak seperti karangan, cabang lateral tersebut sering disebut dengan daun. Oleh karena itulah Charophyceae disebut juga sebagai ganggang karangan.
C.    Susunan sel
Bagian buku dari Charophyceae memiliki sel yang ukuranya lebih kecil dari sitoplasma yang padat. Charophyceae memiliki inti sel yang terletak di pusat sel dan terdapat beberapa kloroplas yang berbentuk cakram tanpa pirenoid tersebar di seluruh sitoplasma. Sedangkan pada bagian ruas dari Charophyceae tersusun atas sel yang berukuran besar serta memliki vakuola di bagian tengah dengan kloroplas ysng terletak berderet secara membujur di bagian tepi sitoplasma.
D.   Reproduksi
Cara reproduksi kelompok Charophyceae dibagi menjadi 2 cara yaitu :
  1. Secara vegetative, dalam reproduksi ini dapat dilakuakan dengan 3 cara yaitu amilum star, tunas, dan protonema sekunder.
  2. Secara gametik, pada reproduksi ini organ kelamin jantan disebut globula dan organ kelamin betina disebut nukula. Letak dari globula dan nukula bervariasi tergantung pada jenisnya. Nukula terdiri dari satu sel yang dikelilingi oleh sel steril dan terletak pada daun.






















Daftar pustaka

Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT. Gramedia.
Sulisetijono. 2009. Alga. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1994. Taksonomi tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.